Awal pertemuan itu…
Sepanjang perjalanan pulang sekolah aku terus menggerutu. Tentu saja aku masih kesal dengan pertengkaran antara aku dan lelaki menyebalkan itu di sekolah tadi. Aku tak ingat apa penyebab pertengkaran diantara kami. Yang aku ingat saat itu kami sama-sama sedang emosi, sehingga semua mejadi serba salah dan tak ada satupun yang mau mengalah. Sebagai pelampiasannya semua kaleng-kaleng bekas yang tercecer dijalanan kutendangi satu persatu, yah setidaknya untuk meredakan emosiku. Tujuanku sore ini adalah pergi ke taman kota yang jaraknya tak begitu jauh dari sekolahku. Ntah sudah berapa lama aku tidak pergi ke sana. Mungkin dengan pergi kesana perasaanku akan lebih baik. Sesampainya di taman kota aku segera mencari tempat duduk yang nyaman. Semuanya masih sama, sama saat seperti aku datang terakhir kesini untuk pertama kalinya. Di sekelilingku orang-orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Anak kecil yang tengah asyik menghabiskan eskrimnya. Seorang remaja yang sedang mengambil beberapa gambar dengan kamera SLR dengan tali tergantung dilehernya. Sepertinya ia berminat menjadi fotografer, gumamku. Sampai akhirnya pandanganku tertuju pada suatu pemandangan yang sepertinya sudah familiar denganku. Pohon itu. pohon yang mengingatkanku pada masa lalu itu. Sungguh. Aku merasa seperti sedang kembali di masa lalu itu. Bernostalgia tepatnya. aku ingat saat itu. Suasana taman siang itu benar-benar mendung, dan sebentar lagi hujan akan turun deras. Sementara aku sedang duduk di bangku yang sama seperti saat ini sedang asyik dengan novel yang baru kupinjam dari perpustakaan. Tak terasa hujan rintik-rintik turun dan jatuh mengenai kertas novel yang sedang kubaca. Aku panik karena hujan semakin lebat dan akhirnya aku memutuskan untuk berteduh dibawah pohon besar yang masih kokoh. Angin kencang yang merasuk ke dalam tubuhku hingga tulang rusukku. Menggigil rasanya. namun siapa yang menyangka tiba-tiba seseorang melepaskan jaketnya dan langsung menyelimutinya di tubuhku yang mungil ini. Aku menoleh berusaha mencari tahu siapa yang berbuat begitu padaku. Kau tahu siapa dia? Sosok lelaki berbadan berbadan atletis, berkulit putih dengan tatapan matanya yang tajam. Setajam mata elang. Oh Tuhan kenapa kau mengirimkan lelaki yang begitu sempurna di saat yang seperti ini, batinku. Lelaki itu membuatku salah tingkah. Benar saja, aku tak berani menatap matanya. Sehingga aku hanya bisa menunduk malu. Ups tidak, tentu saja aku harus mengatakan terimakasih kepadanya. Tapi, saat aku hendak mengatakan hal itu, lelaki tersebut sudah menghilang dan anehnya kenapa ia cepat sekali menghilang. Lelaki itu benar-benar membuatku penasaran. Aku terus bertanya-tanya siapa ia sesungguhnya? Hujan pun berhenti, aku pun pulang dengan langkah gontai menuju rumahku. Sepertinya aku berniat untuk kembali ke taman itu besok sepulang sekolah karena jaket itu. Jaket itu harus kukembalikan. Memang sih kecil kemungkinan untuk bertemu dengannya lagi. Tapi bisa saja kan?
Keesokan harinya, setelah bel berbunyi aku langsung saja berlari menuju taman itu. Aku terus mencari sosok yang kutungu-tunggu tersebut. Ini keajaiban, aku menemukannya sedang duduk di bawah pohon yang sama. Aku berusaha mengendap-endap menuju tempatnya. Aku pun memberanikan diri untuk menyapanya. “ hai..” sapaku dengan suara yang volumenya sangat kecil. Akibatnya ia tak menjawab mungkin ia tak mendengarnya. Aku mencoba sekali lagi “ hai..” kali ini suaraku terdengar agak nyaring. Ia pun menoleh kearahku. Astaga, tatapan ini. Tatapan yang bisa membuatku meleleh. “ hai juga, “ balasnya. Apa? Dia membalas sapaanku. Benar-benar tak kusangka. Aku hampir lupa bahwa tujuanku kesini adalah untuk mengembalikan jaket itu. Segera kusodorkan jaket berwarna biru tua itu kearahnya. Ia mengernyitkan alisnya “ jadi tujuanmu kemari hanya untuk mengembalikan jaket itu?” tanyanya dengan nada sinis. “ ehhh, tidak juga. Ehhh masksudku iya… ehh maksudku ingin mengenalmu sekaligus mengembalikan jaket ini. “ oh begitu.. kenapa? Kau penasaran denganku? Ia menjawabnya sekaligus megambil jaket itu dari tanganku. Ia juga mempersilahkanku duduk disampingnya. Aku benar-benar canggung. Tak tahu apa yang harus kukatakan. Akhirnya aku pun memulai pembicaraan. “ maaf kalau boleh tahu siapa namamu? Mengapa kau senang menghabiskan waktumu di tempat yang seperti ini? Lalu mengapa kemaren kau meningglakanku begitu saja ditempat ini? Kau tak menyebutkan identitasmu. Sungguh misterius” aku bertanya panjang lebar”. “Kau gadis aneh yang pernah aku temui” ungkapnya datar. “ memangnya kenapa? Apa anehnya?” tanyaku lagi penuh penasaran. “ tidak. Lupakan saja. Kau boleh mengenalku. tapi aku harus mengenalmu dulu “. “baiklah, namaku kintan, , kau siapa”. “nama yang cukup bagus tapi sudah pasaran” ungkapnya tanpa merasa bersalah . “ hei.. kau jangan sembarangan bicara ya!” tandasku dengan nada ketus. “ hahaha aku hanya bercanda, ternyata kau lucu juga ya kalau sedang marah. ini anugerah untukku, untuk kali pertamanya aku melihat ia tertawa lepas seperti itu. “tidak ada yang harus ditertawakan. Semua ini sama sekali tidak lucu tau!” “oke..maaf kalau begitu. Baiklah kintan, perkenalkan namaku Angga. Aku senang menghabiskan waktu di tempat ini karena aku mau. Aku meninggalkanmu begitu saja pada waktu itu, karena kupikir kau merasa tertanggu dengan kehadiranku. Benar. Alasan yang tidak logis sebenarnya. Tapi memang begitulah kenyataanya.” “oh begitu, ngomong-ngomong rasanya aku pernah melihatmu sebelum ini, apa kalau tidak salah kau adalah salah satu murid di SMA purnabhakti?” “ya begitulah, kau juga bersekolah disana bukan?” “ iya benar, kenapa kau bisa tahu, apa kau juga pernah melihatku sebelumnya?” “ bukan bodoh. Aku bisa menebaknya karena seragam yang kau kenakan itu” “ hey berarti kita satu sekolah ya? Tanyaku dengan nada histeris. “ tidak usah teralu berlebihan seperti itu, ya aku tahu kita satu sekolah.tidak kusangka harus satu sekolah denganmu. Kalau aku boleh tahu kau berasa di kelas mana?” “ hmm aku adalah murid kelas XA, lalau bagaimana denganmu? “ tidak beda jauh, aku ada dikelas XC.” Begitulah kira-kira awal perkenalan kami. Cukup unik. Aku melirik jam kecil yang ada ditanganku. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 16.50. “ maaf aku pulang harus pulang duluan, aku tidak mau ibu mencemaskanku “ aku segera beranjak dari tempat dudukku dan langkahku terhenti ketika Angga menarik tanganku dan ia berkata “ aku belum begitu mengenalmu, tapi aku harap kau masih mau bertemu denganku. Temui aku besok sore di tempat yang sama. Tempat pertama kali kita bertemu. “ tapi tapii…” belum sempat kulanjutkan kalimatku, Angga melepaskan genggamannya dan segera berlalu meninggalkanku. Aku terdiam seribu bahasa. Berusaha mencerna kalimat yang ia katakan barusan. Aku hanya dapat melihat punggungnya dari jauh yang semakin lama semakin menghilang. Muncul pertanyaan-pertanyaan aneh dari lubuk hatiku. Aku masih tak mengerti semua teka-teki ini. Biarlah waktu yang menjawabnya.
Sampailah pada yang waktu yang dijanjikan. Aku datang lagi ke taman ini. Aku berusaha mencari sosok lelaki yang kemarin baru saja kukenal. Namun usaha-ku sepertinya sia-sia. Batang hidungnya tak dapat kutemukan. Kucoba lagi mencarinya di balik semak-semak sekitara pepohonan. Hasilnya nihil. Aku benar-benar putus asa. Aku pun terduduk lemas dibawah pohon itu. hanya satu yang kuharapkan. Ia muncul dihadapanku. Tak lama kemudian, aku merasa ada sesuatu yang aneh. Aku mendapati Helai demi helai mawar putih berguguran dan mengenai tubuhku yang mungil itu. aku tak tahu dari mana berasalnya mawar itu. jatuhnya helaian mawar itu beserta sebuah amplop dan secarik kertas didalamnya yang tertulis “ hei bodoh. Seharsunya kau mengerti apa maksud dari mawar yang sengaja kujatuhkan itu. aku tau ini terlalu cepat tapi kumohon kau tak boleh menolak. Aku menyukaimu sejak awal bertemu. Maukah kau menjadi kekasihku? Lihatlah! Sekarang aku ada diatasmu”. Segera kuremas surat yang ada ditanganku itu. perasaaanku campur aduk tak keruan setelah membaca surat itu. lututku terasa lemas. aku mencoba mendongak keatas dengan perasaan gugup. Aku menemukannya. Aku menemukan lelaki yang sedari tadi kutunggu kehadirannya. Rencananya setelah aku menemukan lelaki itu aku akan memarahinya karena aku sudah terlalu lama menunggunya. Tapi semua berubah. Semua berubah setelah aku membaca surat yang ia berikan.” Kenapa kau bengong begitu, apakah kau sudah memikirkan jawabannya?” suaranya yang lantang dari atas pohon mengagetkanku. “ aku masih belum mengerti maksudmu!, sebaiknya kau segera turun dan menjelaskan ini semua padaku.!!” “ tidak perlu, aku hanya perlu jawabanmu, iya atau tidak” “ bakilah, sebenarnya aku juga menyukaimu. Aku meraskannya dari awal kita bertemu. Lalu bagaimana?”pertanyaanku memang agak konyol, tetapi begitulah aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Yang jelas aku menerimanya. “ itu berarti kita resmi jadian, benar-benar tak kusangka ternyata pacarku adalah perempuan aneh sepertimu!” “ apa kau bilang? Errrrrr “ aku benar-benar geram dengannya. tentu saja aku tidak terima dijuluki perempuan aneh seperti itu. aku memaksanya turun dan setelah ia turun aku berusaha mengejarnya sekuat tenagaku. Sore itu pun kami terus berkejar-kejaran. Canda tawa yang menghiasi hari tu tak akan pernah terlupakan. Hari itu merupakan hari bersejarah bagiku. Kami dipertemukan dan dalam waktu yang singkat kami resmi jadian. Begitulah yang kuingat dari masa lalu itu. sulit untuk dilupakan.
Aku tersadar dari lamunanku. Baru saja aku menyadari bahwa saat ini aku sedang duduk seorang diri di kursi taman sambil memandangi pohon dengan tatapan kosong di seberang sana. Yah pohon yang mengingatkanku akan masa lalu tadi. Bahkan aku hampir lupa dengan pertengkaran yang terjadi di sekolah tadi siang. Tiba-tiba saja seseorang datang mengampiriku dengan membawa setangkai mawar putih dan diselipan mawar itu terdapat surat yang berisi permohonan maaf. Aku benar-benar terkejut. Lelaki itu.“ kenapa kau sendirian disini,aku harap kau mau memaafkan sikapku yang terlau kasar tadi siang, aku tak bermaksud menyakitimu. sebagai permohonan maaf terimalah mawar putih ini”. “ kau tidak perlu repot-repot memberikan mawar ini untukku juga sudah kumafkan. Apa kau masih ingat dengan awal mula pertemuan kita di pohon seberang sana?” tanyaku dengan jari yang mengarah ke pohon seberang sana “ bagaimana mungkin aku melupakan tempat bersejarah itu, aku masih ingat bagaimana polosnya dirimu waktu menjawab pernyataan cintaku, kau terus mengejarku hanya karena aku memanggilmu perempuan aneh. Semua terekam jelas di memoriku. “ apakah kau masih ingat dengan perkenalan kita? Bagaimana jika kita ulangi lagi? Hai, namaku kintan? aku meniru gaya perkenalan kami dulu. “ nama yang cukup bagus tapi sepertinya sudah pasaran” “ kau mau mulai lagi ya?” kali ini kau tidak main-main, aku benar-benar geram dengan tingkahnya yang selalu menghinaku dari dulu. Baru saja aku hendak memukulnya, ia segera menarik tubuhku kedalam pelukannya. Ia berbsik “ kau gadis aneh yang pernah kutemui. Aku menyayangimu kintan. Aku benar-benar merasakan kehangatan dari kata demi kata yang ia ucapkan barusan. Orang yang bertengkar denganku siang tadi di sekolah, orang yang ada di masa laluku sekaligus orang yang saat ini ada bersamaku adalah orang yang sama. Ya dia adalah Angga. Orang yang amat berari dalam hidupku. Kembali di tempat yang sama kami merasakan kehangatan sebagai dua insan yang saling mencintai. Aku masih menggegam mawar putih yang ada di tanganku itu. mawar yang sama persis ia berikan ketika awal pertemuan kami di tempat yang sama.